in Umum

Bicara Rumah dan Layanan IT

Kemarin setelah seharian berkutat di depan laptop, tepat jam 16:30 saya mulai bergegas mengantarkan anak saya ke rumah sohib dekatnya, sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. 

(Duh, di masa pandemi begini padahal. Saya ijinkan dengan syarat, di sana cuma boleh sebentar, dan saya tungguin supaya tidak molor. Harus hari-hati saja, lebih baik diantar saya sendiri saja, daripada naik transportasi umum.)

Setelah sampai di lokasi, ternyata rumah tersebut besar sekali. Halamannya juga luas. Kontras sekali dengan jalan masuk (gang) yang hanya bisa dilewati 1 mobil. 

Bicara Rumah

Jaman sekarang tidaklah mudah untuk memiliki rumah (lahan) yang luas. Tentu perlu uang yang banyak untuk mendapatkannya. Generasi jaman now sepertinya sudah berbeda cara pandangnya. Mereka memiliki pemikiran, bahwa (paradigma) memiliki rumah tapak (dengan lahan) sudah tidak begitu relevan. 

Masuk akal, karena selain persediaan lahan yang semakin terbatas, harga tanah dan propertipun semakin sulit dikejar dengan penghasilan generasi baru, yang baru bekerja pada umumnya. 

Akhirnya banyak yang mengincar untuk tinggal di apartement, bukan lagi rumah tapak. Atau mungkin tinggal di rumah (tapak) tapi dengan menyewanya. Pertimbangannya adalah, hal itu dapat menghemat dan juga untuk menjaga arus kas agar menjadi relatif konstan. 

Langkah tersebut diambil di antaranya berdasarkan kepada prioritas pemenuhan kebutuhan, dan penggunaan uang. Dengan demikian dapat lebih fokus ke hal-hal lain yang juga penting, misalnya mengurus pendidikan anak, dan sebagainya. Cocok dengan cita rasa anak muda, yang serba praktis. Bukankah suatu hal yang wajar, banyak yang serba on-demand, seperti layanan ojek online misalnya. Seseorang dapat menuju ke suatu tempat, tanpa perlu memiliki sarana transportasi.

Layanan IT

Dalam dunia layanan IT, juga banyak dijumpai kondisi yang mirip. Dalam penyediaan infrastruktur IT misalnya, hal itu dapat dikerjakan oleh pihak lain (outsource). 

Infrastruktur di sini dapat berupa penyediaan (pengadaan) perangkat keras, seperti server, storage, network equipment, space data center, dan sebagainya. Dapat juga mencakup perangkat lunak, operating system, database, termasuk pemeliharaan dan upgradenya. Bahkan sumber daya manusia yang mengoperasikan layanan IT juga dapat dialihdayakan. 

Wah tulisan saya jadi ke mana-mana. Padahal tadinya mau menulis hal-hal ringan di blog ini. 

Tentu banyak hal-hal baru dan menarik di luar sana. Tidak hanya tentang IT tentunya. 

Yang baru saya tahu adalah ternyata harga sebuah printer juga dapat mencapai 180 juta Rupiah. Tentu itu bukan printer sembarang printer. Bisa kalian tengok di link ini dan ini

Hal menarik lainnya adalah ngomongin tentang information system risk. Kejadian diretasnya akun twitter orang-orang penting di kasus terakhir ini misalnya. Memberikan pelajaran, bahwa layanan IT (dalam kasus ini adalah Twitter.com) haruslah selalu direview secara keseluruhan, dengan melihatnya sebagai asset, dan juga dalam hal mengamankannya, dengan memitigasi risiko. 

Dari berita di sini, sepertinya bobolnya akun-akun tersebut, terjadi dengan adanya peran orang dalam (insider) di organisasi tersebut (Twitter). Tentu tidak bermaksud meremehkan upaya yang telah Twitter kerjakan. 

Namun, … sepertinya posting kali ini sudah terlalu panjang. Nanti disambung lagi.

Write a Comment

Comment